Perpisahan itu hal yang menyakitkan
Aku, Queena Laurance. Gadis berumur 12 tahun yang memiliki dua orang peri yang selalu menghiasi hariku. Mereka adalah sahabatku, Summer Taylor dan Sadie Jackson.
Mereka ibarat cat air yang mewarnai kanvas sehingga terlihat lebih indah. Ibarat bintang-bintang yang menemani Bulan di tengah gelapnya malam. Ibarat bunga-bunga yang menjadi penghias alam semesta.
Summer dan Sadie adalah sahabatku yang paling memahamiku. Kami bertiga sudah saling mengikat janji untuk saling menyayangi dan melindungi. Persahabatan kita telah erat sampai kata ‘Perpisahan’ mungkin sudah tak akan terjadi dalam kisah persahabatan kita.
Namun… hal yang tak kami kira terjadi. Perpisahan, hal yang paling kubenci akhirnya terjadi. Aku san Sadie akan berpisah dalam waktu yang cukup lama dengan Summer. Si periang, Summer ini akan pergi meninggalkanku dan Sadie karena pekerjaan Ayahnya yang mengharuskan ia dan keluarganya pindah ke Jepang.
“Queena, Sadie…” panggil Summer lirih ketika ia hendak menaiki pesawat.“Mungkin… perpisahan kita akan memisahkan raga kita terpisah jauh. Namun, percayalah, jiwa dan hati kita akan tetap bersama walau dimana pun dan kapan pun kita berada,” ujar Summer pelan.
Terdengar jelas suarnanya serak menahan tangis. Aku sudah tak kuat lagi membendung air mata ini. Begitu pun Sadie, si tomboy yang hampir tidak menangis, sekarang menumpahkan air matanya sehingga membasahi pipi kemerahannya.
“Tentu, Summer. Kita… akan terus bersama walau kapan pun dan dimana pun kita berada. Aku percaya itu, kau juga kan, Sadie?” ujarku seraya mengyikiut lengan Sadie.
“T…te. tentu, kawan. Tenanglah…” jawabnya seraya menghapus air matanya.
“Ta… tapi…” ucapan Summer terputus olehku.
“Sudah Summer. Bukankah kau yang bilang sendiri? Kita… tidak akan berpisah, selamanya…” tegasku. Summer mengangguk, lalu, ia segera memasuki pesawat dengan tangan melambai ke arahku dan Sadie.
“Selamat tinggal, kawan…” lirih Summer sesaat sebelum Queena dan Sadie hilang dari pandangannya. 3 tahun telah berlalu sejak kepergian Summer ke Jepang. Walaupun keadaan telah berubah, namun hati kita masih tetap sama, saling menyayangi dan melindungi.
Walaupun sekarang hanya Aku dan Sadie yang dapat berkumpul, namun Summer tetap selalu ada dalam hati kita berdua. Aku pun mulai melupakan rasa sedih mendalam sejak kepergian Summer.
Kukira, kesedihan ini tak akan berlangsung lama, namun, perkiraanku salah. Kejadian tiga tahun lalu terulang kembali. Aku dan Sadie kembali harus berpisah. Sadie akan pindah dan tinggal bersama Paman dan Bibinya lantaran kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan maut yang menimpa kedua orangtuanya.
Kejadian yang sama persis saat Summer hendak pergi terulang. Sadie mengucapkan kata-kata terakhirnya kepadaku dan bergegas pergi menuju Indonesia, negara Paman dan Bibinya tinggal. “Selamat tinggal, kawanku…” kali ini, Aku yang mengucapkan kata-kata itu.
Sekarang, Aku merasakan kesepian mendalam lantaran kedua malaikatku telah pergi jauh dariku. Bintang-bintangku telah hilang tertutup awan. Cat air yang mewarnaiku kanvas milikku telah luntur termakan waktu. Aku hanya bisa pasrah saat ini.
Kehilangan dua orang yang sangat kusayangi. Perpisahan, mungkin, Aku sangaaat membenci kata tersebut saat Summer dan Sadie pergi. Namun, perasaanku berubah saat kami bertiga bertemu kembali setelah 13 tahun kami saling berpisah. Sekarang kami telah dewasa.
Aku masih sama seperti dahulu, orang yang sangat menyukai warna biru. Summer masih tetap si kutu buku yang cantik. Dan Sadie, ia telah berubah. Sekarang, ia menjadi sangaaat feminim. Sangat berbeda dari Sadie saat masih gadis.
Ternyata, sejak Perpisahan yang terjadi antara kita bertiga. Persahabatan kami menjadi lebih kuat. Sangat kuat dan tak akan tergoyahkan. Aku pun akhirnya berterima kasih kepada Perpisahan. Memang, awalnya sangat menyakitkan, namun, akhirnya terlalu manis untuk kuungkap.
Akhirnya, telah Aku sadari bahwa Perpisahan itu… bukan hanya awal yang menyakitkan. Namun… juga akhir yang membahagiakan lantaran dapat mempererat persahabatanku, Summer dan Sadie. Itu semua… karena kita dapat mengenang jutaan memori indah persahabatan kami, dalam sebuah Perpisahan.